Usai Diobati, Tim BKSDA Sumsel Lepasliarkan Beruang

Dok. SKW II Lahat

Masih ingat dengan Beruang madu (Helarctos malayanus) yang beberapa waktu lalu diselamatkan dari jerat babi di daerah Talang Kabu, Pagar Agung, Lahat?

Ada kabar baik nih,

Pada hari Kamis (1/4), BKSDA Sumsel melalui Seksi Konservasi Wilayah II Lahat telah mendapat rekomendasi dari petugas medis terkait kesehatan Beruang yang mulai membaik, sehingga siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Setelah melalui diskusi bersama, tim memutuskan untuk melepasliarkan satwa dilindungi tersebut di kawasan Suaka Margasatwa Isau-Isau.

Di hari yang sama, Beruang jantan dewasa tersebut langsung dilepasliarkan pada waktu malam hari. Proses pelepasliaran berjalan dengan aman dan terkendali.

Welcome back ya, Beruang! Selamat menjalani kehidupanmu kembali ke alam . ..

Terperangkap Jerat Babi, BKSDA Sumsel Berhasil Evakuasi Beruang Madu

Dok : SKW II Lahat

BKSDASUMSEL.ORG – Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat bersama Unit Pidana Khusus (Pidsus) Polres Lahat berhasil mengevakuasi seekor Beruang madu yang terperangkap jerat babi di daerah Talang Kabu, Pagar Agung, Lahat pada Selasa (30/3). Informasi satwa dilindungi yang terjerat tersebut bermula dari laporan yang disampaikan Unit Pidsus Polres Lahat.

Saat tim datang, beruang dewasa berjenis kelamin jantan tersebut dalam kondisi hidup dan terjerat pada bagian tangan kanan. Sedangkan bagian tangan kiri terluka, membengkak serta memar. Lokasi temuan tersebut, kondisi vegetasinya berupa semak belukar dan perkebunan warga. Sampai dengan saat ini, beruang tersebut masih dalam perawatan dan penanganan medis sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Sebagai langkah antisipatif ke depannya, petugas SKW II Lahat menghimbau masyarakat agar segera melapor ke perangkat desa setempat ataupun call center BKSDA Sumsel apabila menjumpai adanya pergerakan satwa liar, terutama jenis satwa dilindungi sehingga dapat segera diupayakan penyelamatannya.

Yuk, sama-sama kita peduli dan sayangi satwa!

Jangan lagi pasang jerat, karena itu akan membuat satwa sekarat

Bila tetap pasang jerat, tunggu saja nanti ada aparat

Call center 0812-7141-2141

Bahas RPJP TN Gunung Maras, BKSDA Sumsel Gelar Konsultasi Publik

BKSDASUMSEL.ORG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan 1 dari 2 wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel). Di Provinsi ini, BKSDA Sumsel mengelola 3 kawasan konservasi yaitu TWA Gunung Permisan, TWA Jering Menduyung, dan TN Gunung Maras. Ketiganya ditetapkan status fungsinya sejak tahun 2016, sehingga sampai dengan saat ini fokus pengelolaan termasuk dalam hal perencanaan kawasan, seperti yang dilakukan pada Kamis (25/3) di kota Pangkalpinang melalui kegiatan “Konsultasi Publik Rencana Penyusunan Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional (TN) Gunung Maras periode 2021-2030”.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, dengan dihadiri sebanyak 30 orang dari unsur pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Barat, Kecamatan dan Desa sekitar TN Gunung Maras, UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Universitas Bangka Belitung, Yayasan ALOBI, Kelompok Pecinta Alam setempat serta turut hadir Ketua Komisi III DPRD Kepulauan Bangka Belitung.

Rangkaian acara terdiri atas pemaparan narasumber, Rudijanta Tjahja Nugraha dari Direktorat Kawasan Konservasi dengan materi “Menetapkan Nilai Penting Kawasan dalam Rangka Pengelolaani” dan, Martini dari Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan materi “Perspektif Taman Nasional (TN) Gunung Maras dalam Perencanaan Pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan draf RPJP oleh Tim Penyusun beserta diskusi, dan ditutup dengan penandatanganan berita acara Konsultasi Publik.

Apresiasi atas respon para peserta yang luar biasa dalam menyampaikan pendapat dan tanggapan serta memberikan berbagai masukan untuk penyempurnaan draf RPJP.

Gracias!

*Sriayu Setiawati – Staf Balai KSDA Sumatera Selatan

Virtual Journey, Siswa SAI Palembang Belajar Konservasi Gajah Sumatera di SM Padang Sugihan

BKSDASUMSEL.ORG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan melalui Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah (RKW XV PLG) Padang Sugihan menerima kunjungan edukasi sejumlah Guru Sekolah Alam Indonesia (SAI) Palembang. Kunjungan tersebut berlangsung selama 3 hari, mulai 16 sampai dengan 18 Maret 2021 bertempat di RKW XV PLG Padang Sugihan dan sekitarnya.

Kegiatan yang diberi judul “Virtual Journey : Ekspedisi Suaka Margasatwa Padang Sugihan”, dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran virtual bagi siswa/i kelas 4 sampai dengan 6, dengan materi antara lain klasifikasi makhluk hidup, pengenalan ekosistem gambut, dan konservasi gajah sumatera.

Guru SAI Palembang menayangkan siaran langsung tentang habitat dan perilaku aktivitas harian gajah binaan serta diskusi dan tanya jawab antara petugas resor yang diwakili polisi kehutanan, paramedis, dan mahout  dengan siswa/i SAI Palembang. Kemudian, dilanjutkan dengan keikutsertaan guru melakukan penanaman pohon jenis sungkai (Peronema canescens), bintaro (Cerbera manghas), dan belangiran (Shorea sp) di PLG Padang Sugihan.

Selain itu, siswa/i juga berinisiatif mengumpulkan donasi bersama dalam bentuk bantuan nutrisi pakan gajah binaan berupa buah-buahan dan bantuan sembako untuk masyarakat desa sekitar di desa Sidomulyo yang dititipkan melalui para guru tersebut.

Terima kasih adik-adik SAI Palembang yang telah bersemangat mengikuti “Virtual Journey”. Semoga masa pandemi COVID-19 dapat segera berakhir, dan adik-adik dapat bercengkerama langsung ke Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan, ya!

*Dwi Wiprabowo – Balai KSDA Sumatera Selatan

SEMARAK HARI BAKTI RIMBAWAN KE-38, BKSDA SUMSEL LAKUKAN PENANAMAN DAN PENYULUHAN

Hai #sobatksda, bulan Maret ini kita memiliki hari peringatan besar bagi Rimbawan di seluruh penjuru tanah air, yaitu Hari Bakti Rimbawan.

16 Maret 2021, merupakan peringatan ke-38, yang artinya 38 tahun sudah kita melaksanakan selebrasi sebagai wujud syukur, bakti terhadap alam dan negara.

Dalam sebuah pesan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, yang disampaikan melalui Amanat Kepala Balai pada Apel Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-38 lingkup Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel), “Konservasi adalah jalan hidup yang dipilihkan Tuhan. Jadi kita hanya wajib melaksanakannya dengan sebaiknya-baiknya. Dengan kerja tuntas, kerja ikhlas, dan kerja keras”

Pada peringatan tahun ini, yang juga merupakan rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021, dimana lokasi puncak kegiatan peringatan HKAN tahun 2021 adalah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di area Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang dan Pantai Lasiana. Kedua calon lokasi tersebut letaknya merupakan satu hamparan yang saling berhubungan. Dalam kegiatan tersebut, BKSDA Sumsel melaksanakan 2 kegiatan, yaitu penanaman pohon dan penyuluhan pengelolaan sampah rumah tangga.

Kegiatan dilaksanakan di Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Palembang dan sekitarnya, pada Sabtu (20/3) dengan melibatkan seluruh staf Balai KSDA Sumsel yang berdomisili di Palembang dan perwakilan Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel, serta Pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam PT Indosuma Putra Citra.  Dalam prosesnya, seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik dan menaati anjuran protokol kesehatan.

PENANAMAN POHON

Kegiatan penanaman pohon dilaksanakan di Blok Pemanfaatan TWA Punti Kayu dengan jumlah bibit sebanyak 150 batang. Jenis yang ditanam terdiri atas tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan seperti Ketapang (Terminalia catappa), Mahoni (Swietenia sp.), Sengon (Paraserianthes falcataria), Jelutung (Dyera costulata), Salam (Syzigium polyanthum), dan Nangka (Artocharpus heterophyllus).

PENYULUHAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di Kelurahan Srijaya dengan peserta para ibu rumah tangga wilayah setempat yang dikoordinir Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel. Ketua Dharma Wanita BKSDA Sumsel menyampaikan apresiasi atas semangat dan partisipasi aktif peserta penyuluhan serta mendorong upaya sinergi pengelolaan sampah rumah tangga agar meningkatkan nilai manfaatnya. Selanjutnya, dalam rangka optimalisasi pengelolaan sampah rumah tangga, BKSDA Sumsel turut menyampaikan dukungan melalui penyediaan tong sampah yang diserahkan langsung oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan BKSDA Sumsel.

Salam konservasi! Huu Haa Huu Haa Huu Haa

SEPAKAT PELESTARIAN GAJAH SUMATERA, BKSDA SUMSEL APRESIASI BUPATI POPO ALI

BKSDASUMSEL.ORG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama dengan Universitas Muhammadiyah Palembang melalui program Tropical Forest Conservation Act Sumatera (TFCA-Sumatera) menginisiasi sinergi penanggulangan konflik antara manusia dengan gajah liar di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS). Inisiasi ini mendapat respon baik dari Bupati OKUS, Popo Ali Martopo melalui pertemuan yang digelar pada Rabu (17/3) di Ruang Rapat Terbatas Kantor Bupati OKUS. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati OKUS dengan dihadiri unsur pemerintahan Kabupaten OKUS terkait, KPH Wilayah VII Mekakau Saka, Koramil, dan Polsek serta 5 Kecamatan dan 18 Desa lingkup Kabupaten OKUS yang wilayahnya berada di sekitar kantong habitat gajah liar yang rawan konflik. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan para pihak mengenai pentingnya upaya penyelamatan dan pelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), yang akan ditindaklanjuti dengan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar dan penyusunan rencana aksi.

Dalam pertemuan yang digelar tersebut, Popo Ali menyampaikan bahwa pemerintahan Kabupaten OKUS memberikan dukungan terhadap kesepakatan yang dihasilkan dan siap memfasilitasi kebutuhan Satgas. Kesepakatan tersebut menjadi momentum penguatan komitmen para pihak dalam melestarikan Gajah sumatera, yang berarti juga menyelamatkan fungsi ekologis habitatnya, salah satunya Suaka Margasatwa Gunung Raya. Masing-masing pihak tentunya tidak dapat bekerja sendiri, sehingga kerjasama multipihak harus diinisiasi agar terbangun kesadaran bersama yang berlanjut dengan aksi bersama di dalam pelestarian Gajah Sumatera, khususnya di wilayah Kabupaten OKUS.

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa endemik Sumatera yang masuk dalam daftar satwa dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) sebagai satwa terancam punah (critically endangered) serta daftar Appendix I CITES (Convertion on International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Secara umum, masyarakat OKUS menyadari pentingnya peran dan keberadaan Gajah sumatera sebagai satwa dilindungi. Namun demikian, pelbagai peristiwa yang terjadi beberapa waktu ke belakang, seperti yang telah terjadi 3 Kecamatan yaitu Buana Pemaca, Buay Pemaca, dan Mekakau Ilir, bahwa kemunculan gajah di beberapa titik rawan aktivitas masyarakat perlu mendapat perhatian untuk ditangani segera.

Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, mengapresiasi langkah Bupati OKUS yang telah memberikan fasilitasi dan dukungan dalam membangun “gentlement’s agreement”, sebagai landasan awal bagi semua pihak terkait untuk mengaktualisasikan komitmen dalam mewujudkan harmonisasi antara konservasi keanekaragaman hayati dengan kesejahteraan masyarakat.

*Julita Pitria – Balai KSDA Sumatera Selatan

Sosialisasi Kemitraan Konservasi, Petugas RKW III SM Bentayan Anjang Sana ke Rumah Penduduk

Petugas Balai KSDA Sumatera Selatan melalui Resor Konservasi Wilayah III SM Bentayan melakukan anjangsana sekaligus sosialisasi kemitraan konservasi kepada masyarakat yang beraktivitas di dalam kawasan Suaka Margasatwa Bentayan, pada Selasa (9/3).

Pada kesempatan tersebut, Anjas Tuberlani yang juga Kepala Resor menyampaikan bahwa pola kemitraan ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem kawasan konservasi dengan melibatkan masyarakat sebagai subyek. Untuk itu, petugas Resor akan melakukan pendampingan dan memfasilitasi proses kemitraan konservasi.

Merespon hal tersebut, maka sampai dengan saat ini sejumlah masyarakat mulai aktif mengikutsertakan diri dalam pendataan awal untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemulihan ekosistem kawasan SM Bentayan.

Sumber : Yusmono, S.Hut., M.Si. – Kepala SKW I Sekayu

Menilik Keindahan Anggrek Endemis Sumatra

Sumatra merupakan salah satu hotspot jenis anggrek dunia, memiliki lebih dari 1100 jenis dan banyak diantaranya merupakan jenis anggrek endemis yang tumbuh dari dataran tinggi pegunungan dengan iklim dingin hingga dataran rendah dekat dengan pantai dengan iklim panas.

#sobatksda, kali ini kita akan mengeksplorasi dua jenis anggrek ikonis Sumatra Selatan, yaitu Paphiopedilum superbiens dan Vanda foetida. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) telah mengupayakan pencegahan kepunahan lokal melalui kegiatan PENYELAMATAN dan RILIS. BKSDA Sumsel bersama dengan masyarakat sekitar kawasan konservasi dan mitra kerjasama telah melakukan penyelamatan flora anggrek dan berhasil mengidentifikasi sebanyak 249 jenis dari 68 genus.

Paphiopedilum superbiens

Merupakan salah satu jenis anggrek langka endemis Sumatra yang dapat dijumpai di lanskap Provinsi Sumatra Selatan. Jenis ini memiliki keunikan bentuk bunga yang menyerupai sepatu atau kasut sehingga memiliki julukan anggrek kasut. Jenis ini juga memiliki keunikan pada daunnya yang bercorak seperti papan catur. Saat ini, anggrek Paphiopedilum superbiens termasuk dalam daftar status terancam (endangered) IUCN Redlist yang berarti anggrek ini sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan di alam liar. Tidak hanya berstatus terancam bahkan anggrek ini berstatus Appendiks I CITES yang berarti anggrek jenis ini tidak bisa diperjual belikan secara bebas baik nasional maupun internasional kecuali dengan izin resmi dari pihak berwenang.

Vanda foetida

Merupakan jenis anggrek endemis dan hanya dijumpai di lanskap dataran tinggi Provinsi Sumatra Selatan. Jenis ini merupakan jenis anggrek vanda tercantik karena memiliki warna yang berbeda dari jenis vanda lainya yang berwarna coklat. Vanda foetida memiliki warna dasar putih dengan semburat warna merah muda dengan kelopak bunga membulat serta memiliki bau spesifik seperti sulfur. Jenis ini menyukai habitat yang dingin dengan sirkulasi udara baik serta menyukai matahari langsung.

Vanda foetida (SKW II, Lahat)

PENYELAMATAN merupakan solusi, menitikberatkan pada semua jenis flora, khususnya anggrek, pada area yang terdegradasi maupun area yang diprediksi akan hilang baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi. Hal ini merupakan tindakan krusial yang wajib dilakukan karena kita tidak dapat memprediksi kapan kawasan tersebut akan beralih fungsi.

RILIS merupakan tujuan akhir dari kegiatan penyelamatan yang dilakukan. Sebelum rilis, kita harus menentukan kandidat jenis yang akan dirilis, survei lokasi rilis dan monitoring flora pasca dirilis. Rilis dimaksudkan agar anggrek dapat berkembang biak secara alami di habitat yang baru guna menstabilkan populasi jenis anggrek di alam.

Sampai dengan saat ini, jenis anggrek yang telah berhasil dirilis adalah jenis Vanda foetida di Kawasan Suaka Margasatwa Isau-Isau. BKSDA Sumsel bekerjasama dengan masyarakat sekitar kawasan melakukan kegiatan pra rilis, yang sangat krusial adalah pemilihan lokasi rilis yang harus menyerupai lokasi anggrek tumbuh sebelumnya agar dapat meningkatkan tingkat keberhasilan anggrek untuk bertahan hidup.

Bahas Rencana Kerja Tahunan, BKSDA Sumsel Gelar Rapat Kerjasama dengan PT Pertamina Asset 2

BKSDASUMSEL.ORG – Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama dengan PT Pertamina Asset 2 melaksanakan pembahasan rencana kerja tahunan (RKT), pada Rabu (3/3) di kantor BKSDA Sumsel. Pertemuan tersebut dihadiri 18 orang peserta yang melibatkan perwakilan masing-masing field sebagai bagian dari PT Pertamina EP Aset 2 yaitu field Prabumulih, field Pendopo, field Adera dan field Limau, juga secara virtual, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat hadir menyampaikan kondisi saat ini dan kebutuhan lapangan secara faktual.


Kerja sama antara BKSDA Sumsel dengan PT Pertamina EP Aset 2 telah dimulai sejak 29 Mei 2020 melalui kegiatan penguatan fungsi kawasan dan konservasi keanekaragaman hayati di wilayah kerja SKW II Lahat, dengan ruang lingkup : (1) upaya konservasi Gajah Sumatera, (2) pengawetan flora dan fauna baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi, (3) kemitraan konservasi, (4) pemberdayaan masyarakat, dan (5) peningkatan kapasitas SDM.


RKT merupakan detail Rencana Pelaksanaan Program (RPP) kerja sama yang telah disepakati para pihak. Realisasi seluruh kegiatan pada RKT Tahun ke-1 menjadi hal yang menggembirakan para pihak, sehingga menjadi “penyemangat” pada RKT Tahun ke-2 untuk menjadi lebih baik lagi. Dalam rapat ini, dipaparkan seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun ke-2 kerja sama.

Memegang prinsip 3 S (saling percaya, saling menghargai dan saling memberikan manfaat), peserta rapat memberikan sumbangsih pemikiran demi terlaksananya kegiatan sesuai tata waktu yang disepakati. Kepala BKSDA Sumsel mengingatkan terkait salah satu kewajiban yang harus dipenuhi yaitu tertib pelaporan kerjasama diantaranya Laporan Kegiatan dan Laporan Tahunan. Pada akhir pembahasan, para pihak menegaskan komitmen untuk mengkawal pelaksanaan kegiatan sehingga tujuan kerja sama yaitu pelestarian flora dan fauna yang terancam punah secara berkelanjutan berlandaskan pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja SKW II Lahat dapat diwujudkan.

Kunjungan Kerja DPRD Provinsi Kepulauan Babel Ke BKSDA Sumsel

BKSDASUMSEL.ORG – Balai KSDA Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) menerima kunjungan Ketua beserta anggota Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kepulauan Babel), pada Rabu (3/3). Kunjungan tersebut dalam rangka koordinasi dan konsultasi Raperda Kepariwisataan, bertujuan untuk mendapatkan informasi dan masukan terkait Pemanfaatan Konservasi Sumber Daya Alam dalam pengembangan destinasi wisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Rombongan yang hadir berjumlah 11 orang termasuk pendamping dari unsur Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel, yaitu dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Kehutanan.

Dalam pertemuan yang dilaksanakan di ruang rapat BKSDA Sumsel tersebut, Kepala Balai beserta jajaran menyampaikan paparan, dalam lingkup kewenangan selaku pengelola kawasan konservasi, yang menjelaskan tentang: (1) potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) pada kawasan konservasi di Provinsi Kepulauan Babel, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan, TWA Jering Menduyung, dan Taman Nasional (TN) Gunung Maras, (2) permasalahan dan tantangan pengelolaan kawasan dan pengembangan wisata alam pada kawasan konservasi di Kepulauan Babel, (3) mekanisme perijinan pengusahaan dan kerjasama pengembangan wisata alam di kawasan konservasi (IPPA dan community based), (4) tambahan bahan informasi dan masukan draft Raperda dengan memasukkan daftar peraturan/ konsideran terkait pariwisata alam di kawasan konservasi dan keterkaitan dengan Undang-undang Cipta Kerja beserta turunan Peraturan Pemerintah di sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang baru saja terbit.

Selama kurang lebih 2 jam, pertemuan diwarnai diskusi-diskusi yang dinamis dalam suasana akrab dan konstruktif. Ketua Pansus, H. Akhsan Visyawan, S.ST, M.H beserta anggota yang berasal dari berbagai fraksi di DPRD Kepulauan Babel menyampaikan apresiasi atas fasilitasi, diskusi yang produktif, dan tambahan informasi beserta masukan yang sangat lengkap. Selanjutnya, untuk menindaklanjuti hasil konsultasi dan koordinasi, tim Pansus tersebut akan melakukan kunjungan lapangan ke TN Gunung Maras dengan pendampingan dari petugas BKSDA Sumsel.