BKSDA Sumsel Gelar Diskusi Pengelolaan Kegiatan Wisata Alam Dalam Masa Pandemi COVID-19

Palembang, 19 Agustus 2020. Pandemi COVID-19 di Indonesia memberikan pengaruh pada semua lini, tak terkecuali sektor pariwisata alam dibawah pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hampir semua kawasan konservasi menutup sementara akses kunjungan kegiatan wisata alam dalam rangka mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Saat ini, secara bertahap telah diterapkan kebijakan reaktivasi wisata di kawasan konservasi dengan merujuk kondisi zona resiko di wilayah administrasi masing-masing kawasan. Salah satunya yaitu Taman Wisata Alam Punti Kayu di Palembang yang telah mendapat keputusan reaktivasi dari Direktur Jenderal KSDAE. Tentunya hal tersebut diiringi dengan kesiapan pengelola bersama dengan pemegang ijin usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA), PT Indosuma Putra Citra. Selain itu, pada kawasan konservasi lainnya masih dilakukan penyiapan reaktivasi.

Seiring dengan hal tersebut, Balai KSDA Sumatera Selatan menggelar diskusi mengenai “Aplikasi Booking Online dan Reaktivasi Wisata Kawasan Konservasi Dalam Masa Pandemi COVID-19” dengan narasumber Bapak Ir. John Kennedie, MM, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dalam diskusi yang dilakukan, narasumber membagi pengalamannya dalam mengelola kegiatan wisata alam di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, salah satunya penggunaan aplikasi booking online yang sudah diterapkan. Penggunaan aplikasi tersebut diapresiasi sebagai salah satu cara efektif dalam mengelola pengunjung sesuai dengan daya dukung kawasan dan cukup antisipatif dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Kebijakan pengelolaan kegiatan wisata alam yang telah diterapkan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berpotensi untuk diadaptasi pada kawasan konservasi yang dikelola Balai KSDA Sumatera Selatan. Proses yang dilakukan dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan kajian daya dukung kawasan, membangun komunikasi dengan para pihak terkait, dan sosialisasi kepada masyarakat.  

*Julita Pitria, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Muda

Peringati Hari Konservasi Alam Nasional 2020, BKSDA Sumatera Selatan Lakukan Aksi Bersama

Tanggal 10 Agustus diperingati setiap tahun sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun ini, Balai KSDA Sumatera Selatan menyemarakkan peringatan HKAN melalui kegiatan aksi bersih kawasan konservasi dan penanaman bibit pohon. Kegiatan dilaksanakan di 3 (tiga) lokasi yaitu Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau, dan Suaka Margasatwa Gunung Raya. Selain itu, Balai KSDA Sumatera Selatan juga turut berpartisipasi dalam video conference Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan seluruh UPT KSDAE di Indonesia.

Mengambil tema Negara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam, peringatan HKAN 2020 menekankan pada semangat peradaban maju yang harmoni dengan alam di era milenial.

#sobatksda, sudahkah menjadikan semangat konservasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-harimu? Yuk, lakukan mulai dari hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan menjaga kebersihan sungai.

*Julita Pitria, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Muda

Menguak Keindahan Alam TWA Gunung Permisan

Bangka, Agustus 2018 . Bagi pecinta wisata petualangan, menjelajahi hutan sambil mengamati ekosistem yang ada di dalamnya tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan yang sangat luas dan menjadi habitat dari berbagai flora dan fauna langka, kerap menjadi salah satu tujuan wisata petualangan yang. Tak terkecuali hutan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan yang ada di Bangka Selatan.

CAGAR ALAM BUNGA MAS KIKIM,KAWASAN KONSERVASI YANG (NYARIS) TERLUPAKAN

Natuurmonument Bungamas Kikim
Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda menunjuk 55 (lima puluh lima) lokasi Natuurmonument. Salah satunya Bunga Mas Kikim yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Staatsblad Nomor 392 tanggal 11 Juli 1919 dengan luas 1 Ha. Natuurmonument kemudian dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia menjadi Cagar Alam. Cagar Alam Bunga Mas Kikim menggunakan nama daerah Bunga Mas yang saat ini menjadi ibu kota kecamatan Kikim Timur Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Penamaan tersebut tidak seperti nama Cagar Alam lain di Indonesia yang diambil secara spesifik dari keunikan lokasi semisal Cagar Alam Kawah Ijen, ataupun Cagar Alam Krakatau.
Penggunaan nama daerah sebagai nama Cagar Alam menjadi salah satu faktor sulitnya Bunga Mas Kikim dilacak keberadaannya. Apalagi dengan luasan hanya 1 hektar dan tanpa informasi spesifik, sangat sulit mendapatkan lokasi yang dimaksud. Selain itu, sampai saat ini tidak ada satu surat keputusan pun yang memperkuat atau memperjelas status Cagar Alam Bunga Mas Kikim.
Rentang waktu yang panjang (± 94 tahun) dan tanpa nama yang spesifik mengakibatkan informasi seolah terputus dan simpang siur. Staatsblad No. 392 tahun 1919 sebagai satu-satunya dasar penetapan tidak menjelaskan secara rinci alasan penetapan. Dokumen tersebut hanya menggambarkan letak lokasi tanpa dilengkapi peta.
Selama ini lokasi yang ditunjuk sebagai Cagar Alam Bunga Mas Kikim dipahami berada di sekitar jalan raya menuju kota Tebing Tinggi kurang lebih 1 kilometer dari Kota Bunga Mas. Tepatnya di dekat perlintasan rel kereta api. Penentuan lokasi tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat terkait dengan cerita asal usul nama daerah Bunga Mas.
Menurut cerita masyarakat setempat, dulu nenek moyang mereka pernah melihat tanaman sejenis Kayu Ara yang memiliki kembang berwarna keemasan. Suatu perkara yang unik pada masa itu sehingga dijadikan nama daerah tersebut, Bunga Mas. Dari sini, dugaan lokasi Cagar Alam Bunga Mas disematkan.
Dugaan lokasi lalu berkembang menjadi aksioma di BKSDA Sumsel secara “turun temurun”. Hal ini terlihat dari surat Kepala Sub BKSDA Sumsel kepada Kepala BKSDA II Tanjung Karang nomor 768/V6/ SBKSDA.SS/1988 tanggal 13 September 1988 perihal Laporan Singkat CA Bunga Mas Kikim. Surat ini merupakan terusan dari surat Kepala Sub Seksi Konservasi Lahat yang memberikan deskripsi singkat mengenai posisi Cagar Alam Bunga Mas Kikim, adanya makam keramat dan pohon besar. Surat tersebut juga melaporkan adanya rel kereta api yang melintasi sebagian kawasan Cagar Alam Bunga Mas Kikim.
Pada tahun 2001, BKSDA Sumsel melaporkan kondisi kawasan Cagar Alam Bunga Mas Kikim kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan persepsi lokasi yang sama. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 2011 petugas Seksi Konservasi Wilayah II Lahat melakukan pengecekan lapangan juga pada lokasi yang sama. Ketidakjelasan informasi dan beratnya permasalahan (adanya rel kereta api), menjadikan keberadaan Cagar Alam Bungamas Kikim berusaha ditiadakan dari daftar kawasan konservasi di Sumatera Selatan.