Tim Setditjen KSDAE Bina Pejabat Fungsional lingkup BKSDA Sumsel *

BKSDASUMSEL.ORG – Tim Setditjen KSDAE dari bagian kepegawaian, organisasi dan tata laksana melakukan pembinaan jabatan fungsional lingkup KLHK kepada pejabat fungsional PEH, Polisi Kehutanan, dan Penyuluh Kehutanan, serta Tim Penilai Pendahuluan DUPAK Balai KSDA Sumatera Selatan, pada Selasa (23/2) di Kantor Balai KSDA Sumatera Selatan, Palembang.

Dalam pembinaan yang dilakukan, sekaligus mensosialisasikan Peraturan Menteri PANRB (Permen PANRB) terkait jabatan fungsional lingkup KLHK yaitu Permen PANRB Nomor 21 Tahun 2019 tentang Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan dan Angka Kreditnya; Permen PANRB Nomor 73 Tahun 2020 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya; dan Permen PANRB Nomor 74 Tahun 2020 tentang Jabatan Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan dan Angka Kreditnya.

Sampai dengan saat ini, jumlah pegawai pada masing-masing jabatan fungsional di Balai KSDA Sumatera Selatan terdiri dari Polisi Kehutanan sebanyak 64 orang (40 orang dari inpassing); Pengendali Ekosistem Hutan sebanyak 17 orang (9 orang dari inpassing); dan Penyuluh Kehutanan sebanyak 1 orang.

Melalui sosialisasi Permen PANRB tersebut, diharapkan masing-masing pejabat fungsional dapat segera mempersiapkan diri dalam melakukan pengumpulan angka kredit menyesuaikan kebijakan terbaru tersebut. Selain itu, pembinaan ini juga memberi ruang untuk menggali informasi secara mendalam kepada Tim Setditjen KSDAE sehingga mendapat manfaat yang maksimal.

*Julita Pitria, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Muda

BKSDA Sumsel memberikan Keterangan Ahli dalam kasus “Warga Palembang Jual kucing Hutan melalui Facebook” *

BKSDASUMSEL.ORG – Seorang warga Palembang, Giofani Mega Putri (23), dijatuhi vonis 2 tahun 6 bulan penjara, denda 100 juta subsider kurungan 4 bulan oleh Hakim Pengadilan Negeri Palembang, pada Rabu (17/2/2021).

Dalam pertimbangan putusan majelis hakim, “Hal-hal yang memberatkan terdakwa ialah bahwa perbuatan terdakwa melakukan pelanggaran memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup berupa 4 ekor satwa dilindungi, yaitu kucing kuwuk”, yang diperoleh berdasarkan saksi dan keterangan ahli. Sementara hal yang meringankan menurut majelis hakim bahwa terdakwa menyesali dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Sebelumnya, Giofani ditangkap pada Rabu (28/10/2020) dengan tempat perkara di Jalan Pangeran Subekti Rumah Susun Blok 44, dengan barang bukti empat ekor kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dalam kondisi hidup.

Pada sidang, Kamis (28/1) di Pengadilan Negeri Palembang dengan agenda mendengarkan keterangan Ahli dari BKSDA Sumatera Selatan, Muhammad Andriansyah, S.H., M.H. secara virtual yang dipimpin hakim ketua Said Husein, menjelaskan jika kucing hutan dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Adapun negara sangat dirugikan atas perbuatan terdakwa, ada 10 faktor sebab satwa liar dilindungi sangat tidak dianjurkan/dilarang untuk dipelihara, Balai KSDA Sumatera Selatan mempunyai data terkait terdakwa dalam hal jual beli satwa liar di kota Palembang, terdakwa dapat dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 40 Ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a UU Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana paling lama lima tahun penjara dan denda 100 juta.

*M. Andriansyah, S.Hut., M.M. – Polisi Kehutanan Muda

Upaya Penyelamatan Paus Terdampar Di Perairan Dangkal Selat Bangka

Ogan Komering Ilir, 27 Januari 2021 – Petugas Seksi Konservasi Wilayah III Balai KSDA Sumatera Selatan bersama dengan Pemerintah Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) telah melakukan upaya penyelamatan satwa jenis Paus Sei (Balaenoptera borealis) yang terdampar di perairan laut dangkal Selat Bangka Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan sejak tanggal 24 Januari 2021. Informasi adanya Paus terdampar diperoleh dari masyarakat Desa Simpang Tiga Jaya Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Paus Sei berukuran ± 10 meter dengan berat sekitar 2 ton ditemukan dengan luka sobek dipunggung, berwarna hitam keputihan. Setelah berkoordinasi dengan Camat Tulung Selapan dan berkonsultasi dengan drh. Langgeng, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Sriwijaya penyebab terdamparnya Paus tersebut diduga karena sakit dan terpisah dari kelompoknya ketika melintas di lautan Selat Bangka.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan petugas dan masyarakat setempat, setelah digiring kembali ke perairan pada hari Senin (25/01), Paus tersebut diketahui sudah mengarah ke laut. Namun, pada hari Selasa (26/01), Paus tersebut kembali mengarah ke pantai. Menurut keterangan drh. Langgeng, upaya pertama yang dapat dilakukan jika Paus tersebut kembali yaitu minimal mengusahakan ada air yang menggenangi Paus tersebut. Kondisi luka tersebut akan rentan infeksi, sehingga perlu mencegah myiasis bertelur. Penanganan selanjutnya dapat dilakukan dengan cara membersihkan luka tersebut, bisa menggunakan revanol dan betadine untuk mengantisipasi timbulnya infeksi.

Sampai dengan hari Rabu (27/01), Paus sudah lepas ke laut menjauhi daratan. Petugas BKSDA Sumsel bersama dengan unsur kecamatan Tulung Selapan dan desa Simpang Tiga Jaya masih melakukan pemantauan untuk memastikan Paus tersebut sudah benar-benar kembali ke habitat liarnya.

Direktur Jenderal KSDAE Wiratno yang diwakili Kepala Balai KSDA Sumsel menegaskan bahwa “Petugas kami akan tetap memantau, untuk memastikan Paus tersebut telah kembali ke laut dan tidak kembali ke daratan. Apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada
semua pihak yang telah berinisiatif dan tetap membangun suasana kondusif di TKP”.

Paus Sei (Balaenoptera borealis) termasuk dalam daftar satwa dilindungi sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 serta termasuk dalam Apendiks I CITES.

ig : @bksdasumsel
fb : Bksda Sumatera Selatan
twitter : @bksdasumsel

serta dimuat di http://ksdae.menlhk.go.id/berita/9153/upaya-penyelamatan-paus-terdampar-di-perairan-dangkal-selat-bangka.html

BKSDA Sumsel Gelar Diskusi Pengelolaan Kegiatan Wisata Alam Dalam Masa Pandemi COVID-19

Palembang, 19 Agustus 2020. Pandemi COVID-19 di Indonesia memberikan pengaruh pada semua lini, tak terkecuali sektor pariwisata alam dibawah pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hampir semua kawasan konservasi menutup sementara akses kunjungan kegiatan wisata alam dalam rangka mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Saat ini, secara bertahap telah diterapkan kebijakan reaktivasi wisata di kawasan konservasi dengan merujuk kondisi zona resiko di wilayah administrasi masing-masing kawasan. Salah satunya yaitu Taman Wisata Alam Punti Kayu di Palembang yang telah mendapat keputusan reaktivasi dari Direktur Jenderal KSDAE. Tentunya hal tersebut diiringi dengan kesiapan pengelola bersama dengan pemegang ijin usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA), PT Indosuma Putra Citra. Selain itu, pada kawasan konservasi lainnya masih dilakukan penyiapan reaktivasi.

Seiring dengan hal tersebut, Balai KSDA Sumatera Selatan menggelar diskusi mengenai “Aplikasi Booking Online dan Reaktivasi Wisata Kawasan Konservasi Dalam Masa Pandemi COVID-19” dengan narasumber Bapak Ir. John Kennedie, MM, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dalam diskusi yang dilakukan, narasumber membagi pengalamannya dalam mengelola kegiatan wisata alam di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, salah satunya penggunaan aplikasi booking online yang sudah diterapkan. Penggunaan aplikasi tersebut diapresiasi sebagai salah satu cara efektif dalam mengelola pengunjung sesuai dengan daya dukung kawasan dan cukup antisipatif dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Kebijakan pengelolaan kegiatan wisata alam yang telah diterapkan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berpotensi untuk diadaptasi pada kawasan konservasi yang dikelola Balai KSDA Sumatera Selatan. Proses yang dilakukan dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan kajian daya dukung kawasan, membangun komunikasi dengan para pihak terkait, dan sosialisasi kepada masyarakat.  

*Julita Pitria, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Muda

SURAT IJIN MASUK KAWASAN KONSERVASI (SIMAKSI)

Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi atau disingkat SIMAKSI adalah surat izin yang harus diperoleh sebelum memasuki kawasan konservasi. Hal ini berlaku baik untuk Warga Negara Indonesia (WNI) ataupun Warga Negara Asing (WNA). Berikut unduhan berkaitan dengan pengajuan SIMAKSI.

Peringati Hari Konservasi Alam Nasional 2020, BKSDA Sumatera Selatan Lakukan Aksi Bersama

Tanggal 10 Agustus diperingati setiap tahun sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun ini, Balai KSDA Sumatera Selatan menyemarakkan peringatan HKAN melalui kegiatan aksi bersih kawasan konservasi dan penanaman bibit pohon. Kegiatan dilaksanakan di 3 (tiga) lokasi yaitu Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau, dan Suaka Margasatwa Gunung Raya. Selain itu, Balai KSDA Sumatera Selatan juga turut berpartisipasi dalam video conference Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan seluruh UPT KSDAE di Indonesia.

Mengambil tema Negara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam, peringatan HKAN 2020 menekankan pada semangat peradaban maju yang harmoni dengan alam di era milenial.

#sobatksda, sudahkah menjadikan semangat konservasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-harimu? Yuk, lakukan mulai dari hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan menjaga kebersihan sungai.

*Julita Pitria, S.Hut – Penyuluh Kehutanan Muda

Menguak Keindahan Alam TWA Gunung Permisan

Bangka, Agustus 2018 . Bagi pecinta wisata petualangan, menjelajahi hutan sambil mengamati ekosistem yang ada di dalamnya tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan yang sangat luas dan menjadi habitat dari berbagai flora dan fauna langka, kerap menjadi salah satu tujuan wisata petualangan yang. Tak terkecuali hutan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan yang ada di Bangka Selatan.