You are here

Kelompok Pecinta Satwa di Kepulauan Bangka Belitung

Tempat tersebut begitu menarik bagi masyarakat kota Pangkal Pinang, selain karena memang tempatnya begitu lapang, di sana pun terdapat aneka makanan yang dijajakan dan juga aneka hiburan bagi anak-anak. Tak heran bila tempat tersebut menjadi tempat berkumpulnya masyarakat kota Pangkal Pinang dari segala usia.


Ada pemandangan menarik di Lapangan Merdeka tersebut. Di sudut lapangan ada kerumunan muda mudi yang memakai kaos seragam dan tengah asyik dengan aktivitasnya. Tidak seperti muda mudi pada umumnya, mereka membawa berbagai jenis satwa. Muda-mudi tersebut tergabung dalam beberapa kelompok yang berbeda. Ada kelompok yang dasar kecintaannya pada jenis Musang yang dinamakan ‘Mulobis’ (Musang Lovers Bangka Island). Dari sudut lain ada juga yang dasar kecintaan terhadap berbagai jenis Reptil, mereka menamai kelompoknya ‘Perbak’ (Pecinta Reptil Bangka) dan ada juga yang khusus mencintai jenis-jenis Phyton, mereka menamai kelompoknya ‘Pusba’.
Sebagian besar anggota kelompok adalah muda mudi yang masih duduk di bangku SMA memang terlihat unik. Mereka tidak seperti muda mudi pada umumnya yang lebih memilih tergabung dalam geng motor, atau sekedar nongkrong di tempat-tempat gaul. Kelompok muda-mudi ini mengisi waktu senggang sekolahnya dengan kegiatan yang cukup positif. Kelompok-kelompok ini memiliki garis besar kesamaan visi walaupun berbeda minat dan kecintaan yaitu kelestarian satwa. Sebuah pemikiran yang luar biasa di tengah makin tergerusnya mental konstruktif pemuda bangsa ini.
Ditemui di tengah aktivitasnya, mereka menyampaikan banyak harapan sekaligus keluhan kondisi satwa liar di Bangka Belitung saat sekarang.

Mereka memiliki harapan yang sama, yakni dapat melestarikan satwa yang mereka cintai. Tidak adanya kebun binatang di Kepulauan Bangka Belitung menjadi mimpi terbesar pemuda pemudi tersebut untuk mewujudkannya. elain tetap terjaganya satwa-satwa yang mereka cintai, mereka dapat mengedukasi masyarakat Bangka Belitung secara umum untuk lebih mengenal ciptaan Tuhan lainnya, sedini mungkin. Dengan begitu kita bisa selaras dengan alam yang hakikatnya tak akan terpisahkan dari kehidupan manusia, selamanya..


Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tetapi kita meminjamnya dari anak-anak kita – Pepatah penduduk asli Amerika.

Septian Wiguna, S.Hut

Related posts

Leave a Comment