You are here

CAGAR ALAM BUNGA MAS KIKIM,KAWASAN KONSERVASI YANG (NYARIS) TERLUPAKAN

Natuurmonument Bungamas Kikim
Pada tahun 1919, Pemerintah Hindia Belanda menunjuk 55 (lima puluh lima) lokasi Natuurmonument. Salah satunya Bunga Mas Kikim yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Staatsblad Nomor 392 tanggal 11 Juli 1919 dengan luas 1 Ha. Natuurmonument kemudian dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia menjadi Cagar Alam. Cagar Alam Bunga Mas Kikim menggunakan nama daerah Bunga Mas yang saat ini menjadi ibu kota kecamatan Kikim Timur Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Penamaan tersebut tidak seperti nama Cagar Alam lain di Indonesia yang diambil secara spesifik dari keunikan lokasi semisal Cagar Alam Kawah Ijen, ataupun Cagar Alam Krakatau.
Penggunaan nama daerah sebagai nama Cagar Alam menjadi salah satu faktor sulitnya Bunga Mas Kikim dilacak keberadaannya. Apalagi dengan luasan hanya 1 hektar dan tanpa informasi spesifik, sangat sulit mendapatkan lokasi yang dimaksud. Selain itu, sampai saat ini tidak ada satu surat keputusan pun yang memperkuat atau memperjelas status Cagar Alam Bunga Mas Kikim.
Rentang waktu yang panjang (± 94 tahun) dan tanpa nama yang spesifik mengakibatkan informasi seolah terputus dan simpang siur. Staatsblad No. 392 tahun 1919 sebagai satu-satunya dasar penetapan tidak menjelaskan secara rinci alasan penetapan. Dokumen tersebut hanya menggambarkan letak lokasi tanpa dilengkapi peta.
Selama ini lokasi yang ditunjuk sebagai Cagar Alam Bunga Mas Kikim dipahami berada di sekitar jalan raya menuju kota Tebing Tinggi kurang lebih 1 kilometer dari Kota Bunga Mas. Tepatnya di dekat perlintasan rel kereta api. Penentuan lokasi tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat terkait dengan cerita asal usul nama daerah Bunga Mas.
Menurut cerita masyarakat setempat, dulu nenek moyang mereka pernah melihat tanaman sejenis Kayu Ara yang memiliki kembang berwarna keemasan. Suatu perkara yang unik pada masa itu sehingga dijadikan nama daerah tersebut, Bunga Mas. Dari sini, dugaan lokasi Cagar Alam Bunga Mas disematkan.
Dugaan lokasi lalu berkembang menjadi aksioma di BKSDA Sumsel secara “turun temurun”. Hal ini terlihat dari surat Kepala Sub BKSDA Sumsel kepada Kepala BKSDA II Tanjung Karang nomor 768/V6/ SBKSDA.SS/1988 tanggal 13 September 1988 perihal Laporan Singkat CA Bunga Mas Kikim. Surat ini merupakan terusan dari surat Kepala Sub Seksi Konservasi Lahat yang memberikan deskripsi singkat mengenai posisi Cagar Alam Bunga Mas Kikim, adanya makam keramat dan pohon besar. Surat tersebut juga melaporkan adanya rel kereta api yang melintasi sebagian kawasan Cagar Alam Bunga Mas Kikim.
Pada tahun 2001, BKSDA Sumsel melaporkan kondisi kawasan Cagar Alam Bunga Mas Kikim kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan persepsi lokasi yang sama. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 2011 petugas Seksi Konservasi Wilayah II Lahat melakukan pengecekan lapangan juga pada lokasi yang sama. Ketidakjelasan informasi dan beratnya permasalahan (adanya rel kereta api), menjadikan keberadaan Cagar Alam Bungamas Kikim berusaha ditiadakan dari daftar kawasan konservasi di Sumatera Selatan.

Related posts

Leave a Comment